
Rumus untuk hidup bahagia sejatinya simpel
saja, mensyukuri apa yang dimiliki. Tetapi di balik itu tampaknya ada
juga peranan genetik.
Berawal dari ide dua orang peneliti, yaitu
Michael Minkov dari Varna University of Management, Bulgaria dan Michael
Bond dari Hong Kong Polytechnic University untuk menggabungkan data
World Values Survey (tingkat kepuasan hidup seseorang berdasarkan tempat
tinggalnya), dengan hasil penelitian yang dilakukan ahli genetik
Kenneth K Kidd dari Yale University.
Oleh keduanya, kedua data
ini juga dikombinasikan dengan data lain seperti iklim, tren penyakit
dan tingkat perekonomian di masing-masing negara. Setelah 'diracik',
mereka menemukan adanya korelasi yang kuat antara tingkat kebahagiaan
suatu negara dengan ada tidaknya varian gen dari FAAH (fatty acid amide
hydrolase), yaitu rs324420 dalam susunan genetik penduduknya.
Secara
umum, varian gen ini bertugas membantu menghambat penurunan senyawa
yang berperan dalam meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan, serta
mengurangi rasa sakit. Dengan kata lain, mereka yang memiliki varian gen
ini cenderung dikenal sebagai sosok yang ceria.
Bila
dilihat dari skala yang lebih besar, yaitu negara, maka empat negara,
yaitu Ghana, Nigeria, Meksiko dan Kolombia merupakan yang paling
'beruntung', sebab sebagian besar penduduk mereka mempunyai varian gen
ini.
Di bawah mereka ada Irak, Yordania, Hong Kong dan China.
Orang-orang di sini juga dilaporkan 'tidak begitu bahagia dengan
hidupnya' dan memiliki lebih sedikit varian gen tersebut.
Sedangkan
di kawasan Eropa, negara-negara yang berada di belahan utara terbukti
lebih bahagia, seperti Swedia (26,3 persen). Sebagai gambaran, hanya 21
persen warga Inggris dan 20 persen penduduk Jerman yang mempunyai varian
gen ini.
Tingkat kebahagiaan orang Indonesia sendiri masih
berada di atas Irak, Rusia, Korea dan China. Namun Indonesia masih kalah
'bahagia' dibanding tetangganya, yaitu Malaysia, Thailand, Vietnam dan
Singapura yang prevalensinya nyaris mendekati Ghana.
Meski
begitu peneliti memastikan, gen juga bukanlah satu-satunya aspek yang
menentukan kebahagiaan seseorang. Sebab menurut mereka, penduduk negara
seperti Rusia dan Estonia sebenarnya memiliki cukup banyak varian gen
FAAH, hanya saja tingkat kepuasan hidupnya tergolong rendah dibanding
negara lain.
Salah satu pemicunya adalah perbedaan iklim, serta
kesulitan ekonomi dan politik. Selain beriklim dingin, orang-orang Eropa
Timur juga kerap dihadapkan pada persoalan ekonomi sehingga
mempengaruhi tingkat kebahagiaannya.
"Bukan berarti negara yang
tidak diberkati dengan DNA yang tepat tidak bisa bahagia. Tingkat
kebahagiaan sendiri masih bisa naik dan turun karena berbagai alasan,"
simpul peneliti Minkov seperti dikutip dari Journal of Happiness
Studies, Rabu (20/1/2016).(lll/vit)