Pages

Subscribe:

Blog Archive

Pages - Menu

Selasa, 19 Januari 2016

Tahun 2016, Polio Diharapkan Musnah



World Health Organization (WHO) berharap penyakit polio yang rentan menyerang anak tak ada lagi atau musnah di tahun 2016 ini. Para pemangku kebijakan di WHO optimis setelah sebelumnya program di negara konflik Suriah, Irak, dan Somalia berhasil mengimunisasi jutaan anak dalam kurun waktu dua tahun.

Manajer Eliminasi Polio WHO, Christopher Maher mengatakan saat ini di dunia negara yang masih ada kasus baru polio tinggal Pakistan dan Afghanistan. Di dua daerah itu terdapat tantangan yang berat karena masyarakatnya menolak keras vaksin.

Vaksin dianggap sebagai propaganda terselubung negara Barat untuk memandulkan anak-anak mereka sehingga tak jarang pos-pos imunisasi diserang oleh kelompok tertentu.

Pada Rabu (13/1/2016) lalu misalnya pusat imunisasi polio di kota Quetta, Pakistan, diduga diserang oleh pelaku bom bunuh diri sehingga menewaskan 15 orang dan melukai 20 orang lainnya. Di antara yang tewas 14 orang adalah petugas polisi yang memang sengaja bertugas mengawal proses imunisasi dan satu orang warga sipil.

Dikutip dari BBC pada Rabu (20/1/2016), pada tahun 2014 lalu tercatat ada 300 kasus polio di Pakistan akibat gencarnya serangan yang menghambat gerak petugas imunisasi. Pada tahun 2015 pemerintah lalu menugaskan militer untuk mendampingi petugas kesehatan sehingga akhirnya kasus bisa turun menjadi 50.

Maher yakin ada kesempatan di tahun 2016 kali ini jumlah tersebut bisa jauh diturunkan sampai nol.

Wah, Negara-negara ini Didominasi Orang-orang Bahagia



Rumus untuk hidup bahagia sejatinya simpel saja, mensyukuri apa yang dimiliki. Tetapi di balik itu tampaknya ada juga peranan genetik.

Berawal dari ide dua orang peneliti, yaitu Michael Minkov dari Varna University of Management, Bulgaria dan Michael Bond dari Hong Kong Polytechnic University untuk menggabungkan data World Values Survey (tingkat kepuasan hidup seseorang berdasarkan tempat tinggalnya), dengan hasil penelitian yang dilakukan ahli genetik Kenneth K Kidd dari Yale University.

Oleh keduanya, kedua data ini juga dikombinasikan dengan data lain seperti iklim, tren penyakit dan tingkat perekonomian di masing-masing negara. Setelah 'diracik', mereka menemukan adanya korelasi yang kuat antara tingkat kebahagiaan suatu negara dengan ada tidaknya varian gen dari FAAH (fatty acid amide hydrolase), yaitu rs324420 dalam susunan genetik penduduknya.

Secara umum, varian gen ini bertugas membantu menghambat penurunan senyawa yang berperan dalam meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan, serta mengurangi rasa sakit. Dengan kata lain, mereka yang memiliki varian gen ini cenderung dikenal sebagai sosok yang ceria.

Bila dilihat dari skala yang lebih besar, yaitu negara, maka empat negara, yaitu Ghana, Nigeria, Meksiko dan Kolombia merupakan yang paling 'beruntung', sebab sebagian besar penduduk mereka mempunyai varian gen ini.

Di bawah mereka ada Irak, Yordania, Hong Kong dan China. Orang-orang di sini juga dilaporkan 'tidak begitu bahagia dengan hidupnya' dan memiliki lebih sedikit varian gen tersebut.

Sedangkan di kawasan Eropa, negara-negara yang berada di belahan utara terbukti lebih bahagia, seperti Swedia (26,3 persen). Sebagai gambaran, hanya 21 persen warga Inggris dan 20 persen penduduk Jerman yang mempunyai varian gen ini.

Tingkat kebahagiaan orang Indonesia sendiri masih berada di atas Irak, Rusia, Korea dan China. Namun Indonesia masih kalah 'bahagia' dibanding tetangganya, yaitu Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura yang prevalensinya nyaris mendekati Ghana.

Meski begitu peneliti memastikan, gen juga bukanlah satu-satunya aspek yang menentukan kebahagiaan seseorang. Sebab menurut mereka, penduduk negara seperti Rusia dan Estonia sebenarnya memiliki cukup banyak varian gen FAAH, hanya saja tingkat kepuasan hidupnya tergolong rendah dibanding negara lain.

Salah satu pemicunya adalah perbedaan iklim, serta kesulitan ekonomi dan politik. Selain beriklim dingin, orang-orang Eropa Timur juga kerap dihadapkan pada persoalan ekonomi sehingga mempengaruhi tingkat kebahagiaannya.

"Bukan berarti negara yang tidak diberkati dengan DNA yang tepat tidak bisa bahagia. Tingkat kebahagiaan sendiri masih bisa naik dan turun karena berbagai alasan," simpul peneliti Minkov seperti dikutip dari Journal of Happiness Studies, Rabu (20/1/2016).(lll/vit)